Bukan soal jumlah, tetapi kualitas. Bintang Medan Roller Skate membuktikan bahwa kekuatan pembinaan mampu menutup keterbatasan jumlah atlet. Dari hanya 16 pejuang, lahir 13 medali emas dan posisi Juara Umum II. Selisih tipis dengan sang juara membuka kemungkinan persaingan yang jauh lebih ketat bila kekuatan kontingen dibuat berimbang.


PARIAMAN 
[MKN-News]  — Raihan Juara Umum II yang diraih Bintang Medan Roller Skate Club pada Kejuaraan Sepatu Roda Tingkat Nasional Pariaman Open 2026 Piala Wali Kota Pariaman tidak hanya menjadi catatan prestasi, tetapi juga menghadirkan gambaran menarik tentang kekuatan pembinaan atlet di balik jumlah kontingen yang relatif terbatas.

Bintang Medan yang hanya membawa 16 atlet mampu mengoleksi 13 medali emas, 6 medali perak, dan 6 medali perunggu pada kelas Speed. Hasil tersebut menempatkan klub asal Sumatera Utara itu di posisi kedua klasemen umum, dengan selisih hanya satu medali emas dari peraih Juara Umum I yang menurunkan sekitar 28 atlet.

Bagi kalangan praktisi sepatu roda, capaian tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Bintang Medan secara kualitas sudah sangat kompetitif. Bahkan muncul penilaian bahwa apabila jumlah atlet yang diturunkan Bintang Medan sebanding dengan kontingen Juara Umum I, peluang persaingan untuk memperebutkan posisi teratas akan semakin terbuka dan hasil akhir berpotensi lebih berimbang.

“Kalau melihat komposisi atlet dan jumlah medali yang diperoleh, sebenarnya Bintang Medan menunjukkan efektivitas yang sangat tinggi. Dengan hanya 16 atlet mampu mengumpulkan 13 emas. Sementara juara umum pertama membawa jumlah atlet yang jauh lebih banyak. Artinya, jika jumlah atlet yang bertanding berada pada komposisi yang sama, persaingan bisa saja berjalan lebih ketat dan hasilnya lebih berimbang,” ujar salah seorang praktisi sepatu roda yang mengamati perkembangan kompetisi nasional.

Menurut pengamat tersebut, perolehan medali dalam sebuah kejuaraan tidak hanya ditentukan oleh jumlah atlet, tetapi jumlah peluang yang dimiliki setiap klub untuk menambah poin dari berbagai nomor pertandingan. Semakin banyak atlet berkualitas yang diturunkan, semakin besar pula peluang sebuah klub mengumpulkan medali.

Dari sisi efektivitas, performa Bintang Medan menjadi salah satu sorotan dalam Pariaman Open 2026. Dengan jumlah atlet yang lebih sedikit, klub ini mampu menghasilkan produktivitas medali yang tinggi dan bersaing hingga selisih tipis dengan pemuncak klasemen.

Ketua Umum Bintang Medan Roller Skate Club, Taufiq Budi, S.E., mengaku bangga terhadap perjuangan para atletnya. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan yang berjalan secara konsisten.

“Kami sangat puas dengan hasil ini. Dengan 16 atlet, kami mampu menjadi Juara Umum II dan hanya terpaut satu medali emas dari Juara Umum I yang membawa sekitar 28 atlet. Bagi kami, ini menunjukkan kualitas anak-anak dan efektivitas pembinaan yang selama ini dilakukan,” kata Taufiq.

Ia menilai hasil Pariaman Open 2026 menjadi bukti adanya peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Pariaman Open 2025, Bintang Medan harus puas berada di posisi Juara Umum III dengan raihan 6 medali emas, 7 perak, dan 6 perunggu.

Sementara pada tahun ini, jumlah medali emas meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 13 emas. Selain naik peringkat menjadi Juara Umum II, jarak dengan klub terbaik di klasemen juga semakin dekat.

“Kalau dibandingkan tahun lalu, perkembangan atlet sangat terlihat. Dari Juara Umum III dengan 6 emas, sekarang menjadi Juara Umum II dengan 13 emas. Selisih dengan Juara Umum I hanya satu emas. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan pembinaan,” ujar Taufiq.

Dalam kejuaraan tersebut, beberapa atlet Bintang Medan tampil mencuri perhatian. Sultan Umar Zaki menjadi salah satu penyumbang prestasi terbesar setelah meraih 4 medali emas dan 1 medali perak. Sementara atlet muda Adeva yang baru pertama kali tampil dalam event nasional langsung memberikan kejutan dengan mempersembahkan medali emas.

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri karena kami melihat munculnya atlet-atlet baru yang mampu bersaing. Sultan tampil konsisten, dan Adeva membuktikan bahwa regenerasi atlet berjalan dengan baik,” tambah Taufiq.

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja tim pelatih yang dipimpin M. Bachtiar Aripin, bersama asisten pelatih M. Caesar Al Rozak, Ziyan Silmi, Nadhira Dermawan, serta jajaran pelatih lainnya.

Menurut Taufiq, persiapan menghadapi Pariaman Open 2026 dilakukan melalui latihan rutin yang menekankan kedisiplinan, mental bertanding, dan kekompakan tim.

“Kami tidak melakukan persiapan yang berlebihan. Yang kami bangun adalah konsistensi latihan, keyakinan atlet, serta kerja sama antara pelatih, atlet, dan orang tua,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Pengprov PORSEROSI Sumatera Utara, Dedy Arif, memberikan apresiasi terhadap pencapaian Bintang Medan. Ia menilai prestasi tersebut menjadi indikator positif bagi perkembangan olahraga sepatu roda Sumatera Utara.

“Dengan jumlah atlet yang tidak besar, Bintang Medan mampu bersaing di papan atas nasional. Ini menunjukkan bahwa kualitas pembinaan menjadi faktor penting dalam menciptakan atlet berprestasi,” ujar Dedy.

Menurutnya, hasil tersebut harus menjadi motivasi bagi klub-klub lain di Sumatera Utara untuk semakin serius membangun pembinaan atlet usia dini.

Prestasi Bintang Medan di Pariaman Open 2026 akhirnya bukan hanya berbicara tentang posisi Juara Umum II, tetapi juga tentang potensi besar yang masih dapat dikembangkan. Dengan peningkatan jumlah atlet berkualitas dan pengalaman bertanding yang semakin matang, persaingan menuju posisi Juara Umum I pada kejuaraan nasional berikutnya diperkirakan akan semakin terbuka.[ag007]